http://www.kpujepara.go.id/wp-content/uploads/2019/02/KPUJEPARA-KECIL.jpg
Home / Berita / Generasi Milenial Ingin Terlibat di Kepemiluan

Generasi Milenial Ingin Terlibat di Kepemiluan

20190121_155852Kpujepara.go.id –Kecenderungan sebagian generasi milenial tak tertarik membicarakan atau terlibat aktif dalam tema/kancah politik adalah tantangan tersendiri dalam penyelenggaraan pemilu. Namun kecenderungan itu memiliki sebab yang kompleks, dan mengurainya membutuhkan banyak pendekatan. Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah mengajak dialog mereka, dengan cara menarik dan menggunakan bahasa milenial. Termasuk melibatkannya dalam diskursus demokrasi, dan di tahapan kepemiluan.

Hal itu mengemuka dalam sosialisasi pemilu berbasis pemilih pemula, yang melibatkan sekitar 400-an pelajar dari Ikatan Pelajar NU dan Ikatan Pelajar Putri NU Cabang Jepara di Gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unisnu, Sabtu (19/1). Acara tersebut diselenggarakan KPU bekerja sama dengan IPNU-IPPNU yang pada saat bersamaan menggelar konferensi cabang untuk memilih ketua baru.

Hadir sebagai pemantik diskusi Muhammadun, koordinator Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, Partisipasi Masyarakat dan Sumber Daya Manusia KPU Kabupaten Jepara. Hadir juga Arifin, komisioner Bawaslu Jepara.

Musthofa, salah seorang pelajar asal Desa/Kecamatan Nalumsari berpendapat, tak semua generasi milenial apatis terhadap proses-proses demokrasi. Banyak, lanjut dia, yang terlibat secara aktif. Namun dia juga tidak memungkiri ada yang enggan atau tidak tertarik dengan diskusi demokrasi, terlebih terlibat dalam proses kepemiluan. “Suka atau tak suka, proses demokrasi faktanya berjalan di negara kita, dan pemilu sebagai hal penting yang menjadi wadah kedaulatan rakyat dalam memilih pemimpin. Menurut saya penting untuk seluas mungkin mendorong atau melibatkan generasi milenial dalam demokrasi seperti di tahapan-tahapan pemilu,” kata Musthofa yang pernah menjadi anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) dalam pemilihan gubernur 2018 lalu.

Rusmina (pelajar asal Desa Plajan Kecamatan Pakis Aji menengarai, kecenderungan apatisme generasi milenial terhadap proses demokrasi, boleh jadi karena mereka tak suka atau jengah dengan konten-konten di media media sosial yang di antaranya banyak memperlihatkan suasana tak sehat. “Generasi milenial itu ingin yang happy-happy. Ini kritik terhadap proses pemilu, bagaimana benar-benar bisa menjadi pesta yang menyenangkan dan menarik simpati anak-anak muda,” kata dia.

Dwi Rohman Wahyudi, pelajar asal Desa Slagi Kecamatan Mlonggo berpandangan, generasi milenial sebenarnya memiliki keinginan untuk masuk dalam wacana demokrasi namun belum memiliki kanal-kanal yang tepat dan bisa memenuhi selera dan kebutuhan mereka. “Secara inti, sebenarnya generasi milenial sama dengan generasi lainnya dalam hal terpapar hasil pemilu. Jika mereka melek politik, misalnya tahu pentingnya pemilu, maka mereka akan mau terlibat dan melibatkan diri secara sukarela. Tapi ini pilihan,” kata dia.

Anggota KPU Jepara Muhammadun dalam kesempatan itu memantik diskusi dengan membedah beberapa riset perilaku milenial di Amerika Serikat, Eropa dan Indonesia. Termasuk membedah bagaimana saluran-saluran komunikasi yang dominan digunakan anak-anak muda atau remaja dalam berinteraksi dan bersosialisasi. “Konektivitas generasi milenial dengan internet menciptakan kontadiksi-kontradiksi. Di satu sisi mereka responsif dan cepat tanggap terhadap situasi lantaran cepat mendapatkan informasi, namun di sisi lain, saat mencoba masuk ke ruang media sosial, salah satu dunianya, mereka disuguhi suasana yang tak sehat dan berbau fanatisme berlebihan.

“Media sosial adalah ruang publik. Siapa saja bisa menyalurkan gagasan. Ruang-ruang diskusi kepemiluan perlu terus didorong lebih positif. Demokrasi digital kita harus lebih menginspirasi generasi milenial karena waktu mereka banyak digunakan untuk masuk ke media sosial melalui beragam platform. Kami rasa ini tugas bersama, termasuk kami dari KPU yang siap terus berdialog dengan anak-anak muda dalam hal kepemiluan atau demokrasi. Pada pemilu 2019, partisipasi dibuka lebar, misalnya KPPS bisa berusia 17 tahun,” kata Muhammadun.  

Muhammadun juga mendorong peserta pemilu bisa menjadikan generasi muda ini sebagai salah satu bagian masyarakat yang bisa diajak diskusi di masa kampanye, agar mereka tahu pilihan-pilihan politiknya. Di Jepara, lanjutnya, dari 876.490 yang memiliki hak pilih, sebanyak 3,41 persennya berusia 17-18 tahun, 4,64 persennya berusia 19-20 tahun, dan 21,59 persen berusia 21-30 persen. “Jadi hampir 30 persen pemilik hak pilih di Jepara adalah generasi milenial,” ungkap Muhammadun. (Muh/kpujepara).20190121_160036