http://www.kpujepara.go.id/wp-content/uploads/2019/02/KPUJEPARA-KECIL.jpg
Home / Berita / Kreasi Seni Berdemokrasi ala Generasi Muda

Kreasi Seni Berdemokrasi ala Generasi Muda

20190211_091405

Kpujepara.go.id- Beredarnya banyak informasi hoaks seputar pemilu 2019 memantik perhatian generasi milenial. Setidaknya itu yang terlihat di goresan cat di atas kanvas dari tangan para pelajar SMA/SMK/MA serta mahasiswa saat mengikuti lomba Pentas Seni Demokrasi Pemilu 2019 yang diselenggarakan KPU Kabupaten Jepara di Gedung Wanita RA Kartini Jepara, Minggu (10/2).

Kominfo mengidentifikasi setidaknya ada 175 konten hoaks sepanjang Januari 2019 yang menyebar di media sosial. Dari jumlah tersebut, 81 konten terkait pemilu 2019. Hoaks lainnya terkait pemerintahan, bencana, dan teknologi informasi. Itu mengapa generasi milenial menaruh perhatian penting masalah hoaks dalam goresan kanvasnya.

Tak hanya melalui goresan di atas kanvas, sebagian dari mereka juga mengekspresikanya melalui aksi panggung melalui lomba band dan tari. Ada 20 grup band dan tari yang berpartisipasi dalam acara itu. Mereka semua grup band kalangan pelajar di Jepara. Ratusan penonton memadati tribun, menyaksikan dan mendukung grup band dan tari dari sekolah mereka. Setidaknya 90 persen penonton yang memadati tribun adalah anak-anak usia 17-18 tahun.  

Zunalia Akhmad, yang menempati peringkat pertama lomba poster demokrasi, misalnya, melalui goresan gambar dan narasi yang ditulisnya, mengajak generasi milenial untuk menyukseskan pemilu dengan memberikan suaranya di tempat pemungutan suara. Dalam pesan yang setara, Zunalia, warga Jepara yang kini menempuh studi di Unnes Semarang itu juga mengajak generasi milenial bisa membuang jauh-jauh praktik politik yang bisa menjadi racun demokrasi, yaitu politik dengan menggeret isu SARA, politik uang, serta penyebaran berita hoaks.

Khusnul Ma’ab, peserta lomba poster dari SMK Negeri 1 Jepara yang menempati peringkat kedua, lebih menekankan pesan moral kepada calon pemilih. Generasi milenial, dalam kanvasnya, mesti menggunakan hak pilih dengan pertimbangan yang cerdas dan bijak. Sedangkan Rizqi, dari SMK Negeri 2 Jepara yang menempati peringkat ketiga, lebih menekankan pesan kesejukan dalam berdemokrasi. Beda pilihan politik itu keniscayaan dan wajar, tetapi menjaga persatuan demi tujuan bangsa dan negara tak bisa ditawar.

Di luar ketiga terbaik itu juga banyak karya yang menarik. S Budi Santoso, salah satu juri lomba poster demokrasi yang juga ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Jepara mengakui tiga juri bekerja keras untuk menentukan tiga terbaik. “Kami betul-betul mencari karya dengan gagasan orisinil dan mengena, terutama untuk kalangan pemilih pemula,” kata Budi, Senin (11/2).

Kesemarakan lomba juga terlihat dari panggung band dan tari. Penampilan mereka beberapa kali mendapatkan sambutan tepuk tangan meriah dari penonton. Tiap grup band membawakan dua lagu bebas dan satu jingle pemilu 2019. Demikian juga tari. Sebagian menggunakan aliran musik serupa, namun sebagian lagi mengombinasikannya dengan aliran musik berlanggam Jawa. Sekretaris KPU Jepara Da’faf Ali mengatakan juri menetapkan grup band dari SMA Negeri 3 Jepara di peringkat pertama, disusul grup band SMA Negeri 1 Pecangaan dan SMA Negeri 1 Bangsri. Untuk tari peringkat pertama ditrempati SMA Negeri 1 Jepara, disusul SMK Muhammadiyah, dan SMA Negeri 1 Mlonggo. Acara itu ditutup dengan penampilan band tamu, Pria Idaman.

Posisi Strategis

Acara itu dihadiri Ketua KPU Jepara Subchan Zuhri bersama empat komisioner lainnya, Muntoko, Ris Andy Kusuma, Siti Nur Wakhidatun, dan Muhammadun. Ketua Bawaslu Jepara Sujiantoko juga hadir. Subchan Zuhri mengatakan, generasi muda memiliki gaya sendiri dalam menyambut pesta demokrasi pemilu 2019. “Seluruh pesan yang disuguhkan generasi muda dalam pentas seni demokrasi ini menunjukkan, pemilu itu menyenangkan, namun tetap harus disambut dengan kesiapan mental untuk menepikan hal-hal yang bisa menurunkan kualitas demokrasi, sekaligus menumbuhkan partisipasi yang kreatif dan mendidik,” kata dia.

Muhammadun menambahkan, posisi generasi pemilih pemula dalam pemilu 2019 di Jepara cukup strategis. Setidaknya dari jumlah mereka yang berusia 17-18 tahun dalam daftar pemilih tetap ada 29.855 pemilih dari total DPT 876.490 pemilih. “Partisipasi mereka dalam pemilu akan strategis dan cukup mewarnai. Ini baru yang pemilih pemula, belum yang usianya di bawah 30 tahun, yang kalua dijumlahkan hampil 30 persen jumlah DPT,” papar Muhammadun. (Muh/kpujepara)20190211_091306

20190211_091609 20190211_091229 20190211_091121

20190211_091522