ARTIKEL

Bentuk Relawan Demokrasi untuk Tingkatkan Partisipasi

Salah satu calon anggota Relawan Demokrasi dari basis pemilih disabilitas mengikuti wawancara dengan komisioner KPU Jepara. (foto KPU Jepara)
Salah satu calon anggota Relawan Demokrasi dari basis pemilih disabilitas mengikuti wawancara dengan komisioner KPU Jepara. (foto KPU Jepara)

 

Pemilu 2019 merupakan pemilu serentak yang menggabungkan pemilihan legislatif dan eksekutif dalam satu waktu. Rabu, 17 April 2019 nanti, 192.828.520 pemilih akan menentukan siapa yang akan menjadi wakil-wakil rakyat dari tingkat pusat sampai daerah, sekaligus menentukan siapa Presiden dan Wakil Presiden Indonesia periode 2019 – 2024.

Keterlibatan atau partisipasi masyarakat dalam setiap tahapan pemilu menjadi sangat penting. Partisipasi yang selama ini masih sebatas diukur dari tingkat kehadiran pemilih di tempat pemungutan suara (TPS), harus ditingkatkan lagi menjadi partisipasi aktif dari semua lapisan masyarakat dalam setiap tahapan pemilu.

Tahapan pemilu dilaksanakan sejak Agustus 2017 lalu. Mulai dari pernecanaan program dan anggaran, penyusunan peraturan-peraturan KPU dan sosialisasi. September 2017 KPU juga sudah mulai melaksanakan tahapan pendaftaran dan verifikasi peserta pemilu. Kemudiana awal 2018, pembentukan badan penyelenggara tingkat kecamatan dan tingkat desa/kelurahan juga sudah dibentuk oleh KPU. Dilanjukan dengan tahapan penting lain seperti penyusunan daftar pemilih, pencalonan, dan kampanye.

Tahapan-tahapan pemilu ini tak bisa berjalan begitu saja tanpa kehadiran masyarakat secara luas. Masyarakat punya hak untuk turut berperan dalam setiap tahapan. Meski KPU sebagai lembaga yang oleh undang-undang diberi mandat untuk melaksanakan tahapan pemilu, namun sukses dan tidaknya pemilu bukan semata ada di tangan KPU. Masyarakat di luar penyelenggara pemilu memiliki porsi untuk turut menyukseskan pemilu yang demokratis.

Pembentukan relawan demokrasi ini, menjadi ikhtiar KPU dalam melibatkan masyarakat luas untuk turut ambil bagian dalam menyukseskan Pemilu 2019. Relawan demokrai ini dibentuk dengan harapan mampu menumbuhkan kembali kesadaran     positif terhadap pentingnya pemilu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Di Jepara, KPU membentuk 55 anggota relawan demokrasi yang dipilih dari berbagai basis pemilih strategis. Basis-basis pemilih strategis tersebut meliputi basis keluarga, basis pemilih pemula, basis pemilih  muda, basis pemilih perempuan, basis penyandang disabilitas, basis pemilih berkebutuhan khusus, basis kaum marginal, basis komunitas, basis  keagamaan, dan basis warga internet (warganet).

Anggota relawan demokrasi ini diharapkan dapat menggerakkan masyarakat di tempat mereka berada, agar mau menggunakan hak pilihnya dengan penuh tanggung jawab, sehingga partisipasi pemilih dan kualitas Pemilu 2019 dapat lebih baik dibandingkan pemilu-pemilu sebelumnya. Pemilih yang hadir di TPS bukan hanya kuantitasnya (tinggi rendahnya persentase kehadiran), tetapi yang diinginkan adalah kehadiran pemilih hadir di TPS untuk memberikan hak suaranya dengan kesadaran sendiri bukan karena dorongan politik transaksioal yang dapat merusak dan mengancam sistem demokrasi.

Anggota relawan demokrasi ini mayoritas dari para “pentolan” di masing-masing organisasi, baik organisasi kepemudaan, keagamaan, kelompok profesi, pelajar, kelompok perempuan sampai disabilitas dan kalangan masyarakat marginal. Dengan demikian, peran mereka untuk memengaruhi perilaku memilih (voting behaviour) anggotanya dalam Pemilu 2019 menjadi pemilih yang cerdas dan rasional sangat signifikan. Peningkatan partisipasi pemilih di TPS hendaknya juga dibarengi dengan peningkatan kualitas pemilih dalam menentukan pilihan berdasarkan pertimbangan yang rasional, bukan semata menggugurkan hak memilih apalagi dengan didorong politik transaksional.

Dibentuknya relawan demokrasi pada Pemilu 2019 ini dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas proses  pemilu; meningkatkan partisipasi pemilih; meningkatkan kepercayaan publik terhadap proses demokrasi; serta untuk membangkitkan kesukarelaan masyarakat sipil dalam agenda pemilu dan demokratisasi.

Dalam riset KPU Kabupaten Jepara Bersama Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Islam Nahdlatul Ulama (UNISNU) Jepara terhadap perilaku memilih pada Pemilu 2014, faktor yang paling menentukan masyarakat dalam memilih caleg atau parpol adalah faktor psikologis (ada 2 faktor) dan faktor rasional (3 faktor). Pada faktor psikologi kandidat, kejujuran dan kepedulian mendapat perhatian dari seluruh responden, bahwa faktor tersebut merupakan faktor yang sangat menentukan. Pada pendekatan rasional, faktor yang menurut responden penting adalah keyakinan terhadap kinerja yang akan datang, visi, misi dan progam kerja dan kemampuan caleg.  (subchan zuhri)

 

 

 

Back to top button
Close