Berita

Inspirasi Penyelenggaraan Pemilu dari Olimpiade Tokyo

Kpujepara.go.id – Pemilu dan pemilihan serentak terdekat akan diselenggarakan pada 2024. Melihat tahun penyelenggaraan seolah-olah masih relatif lama. Namun jika mengacu pada rancangan tahapan menuju dua hajat besar demokrasi elektoral tersebut, waktunya sudah semakin pendek, yakni 2022 atau lebih kurang setengah tahun. Bagi lembaga penyelenggara seperti KPU, waktu itu terasa sangat pendek sehingga saat ini perlu terus dilakukan langkah-langkah persiapan yang strategis.

Hal itu dikemukakan Muhammadun, anggota KPU Kabupaten Jepara saat menjadi pembina dalam apel pagi secara daring dan luring yang diikuti seluruh komisioner, sekretaris, kasubbag, dan staf di KPU Kabupaten Jepara, Senin (26/7). “Pemilu dan pemilihan serentak masih 2024, tetapi berdasarkan rancangannya, tahapan pemilu tinggal menghitung bulan. Kita patut untuk menghitung mundur sambil terus menyiapkan langkah-langkah persiapan yang strategis,” kata Muhammadun.

Mengacu pada simulasi tahapan pemilu dan pemilihan serentak 2024 yang dipaparkan KPU RI dalam konsinyering dengan Komisi II DPR RI, kutip Muhammadun, pemungutan suara pemilu 2024 akan digelar pada 21 Februari 2024 sedangkan pemilihan serentak pada 27 November 2024. Khusus pemilu,, jika nanti finalisasi pengambilan keputusan menetapkan tahapan pemilu dimulai 25 bulan sebelum pemungutan suara, maka tahapannya sudah akan dimulai pada awal 2022.

“Keputusan final ini tentu akan menunggu dinamika akhir di DPR RI yang melibatkan pemerintah dan seluruh lembaga penyelenggara pemilu. Bagi KPU Kabupaten Jepara, tentu saja sebelum keputusan itu diambil harus terus melakukan adaptasi dan persiapan-persiapan yang bisa dilakukan sejak dini,” lanjut Muhammadun yang juga koordinator Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, Partisipasi Masyarakat, dan SDM KPU Kabupaten Jepara. “KPU Kabupaten Jepara tidak termasuk yang menyelenggarakan pemilihan serentak 2020 di tengah pandemi. Karena itu bisa mencermati bagaimana proses pemilihan di masa pandemi dari banyak daerah,” lanjut dia.

Dalam kesempatan itu, Muhammadun mengajak secara sekilas juga melihat bagaimana kegiatan-kegiatan besar diselenggarakan di tengah pandemi. Ia mencontohkan bagaimana saat ini Olimpiade Tokyo digelar. Komite Olimpiade Internasional (IOC) menunda Olimpiade Tokyo yang sedianya digelar 2020 menjadi 2021 karena pandemi. Selama masa penundaan itu, IOC melakukan adaptasi-adaptasi persiapan, sehingga hasilnya bisa disaksikan sekarang. “Kita bisa melihat, setidaknya melalui situs resmi Olimpiade Tokyo 2020, bagaimana keputusan-keputusan yang diampil untuk memandu jalannya pertandingan, interaksi penyelenggara dengan media dan publik secara umum, serta perilaku-perilaku peserta (atlet dan ofisial) saat berlaga. Kita bisa memirsanya dalam konteks penyelenggaraan hajat kelas dunia di tengah pandemi,” lanjut Muhammadun.

Prinsip inklusivitas juga dapat kita lihat dari Olimpiade Tokyo ini, dimana ada Refugee Olympic Team atau Tim Atlet Olimpiade Pengungsi. Setidanya ada lebih dari 80 juta pengungsi di dunia saat ini. Pada Olimpiade Tokyo 2020 ini ada 29 atlet dari 11 negara yang statusnya mewakili warga pengungsi yang ambil bagian di beberapa cabang olahraga. Kebijakan memasukkan kontingen representasi kalangan pengungsi ini sudah ada sejak Olimpiade 2016 di Rio de Janeiro. “Dalam kepemiluan, prinsip inklusivitas juga menjadi isu penting dan telah diterapkan oleh KPU, misalnya keterlibatan kalangan disabilitas dalam setiap tahapan pemilu maupun pemilihan. Kita juga harus memperhatikan hal ini karena demokrasi memberikan perhatian serius tentang hak-hak,” kata Muhammadun.

Kontingen negara peserta, publik dan media massa di dunia, kata Muhammadun, amat terpandu dan termanjakan dengan informasi, pemberitaan, jadwal, serta hasil setelah pertandingan di semua cabang olahraga, dan hasil secara komprehensif dalam hitungan detik. “Ada sisi-sisi positif yang bisa kita tiru dari semangat penyelenggara olimpiade ini, setidaknya dalam memandu dan memudahkan publik, media dan peserta dalam berpartisipasi. Tentu saja presisi dalam melayani ini perlu didahului dengan persiapan-persiapan yang matang dan terukur,” kata dia.

Di akhir penyampaian, Muhammadun mengingatkan untuk terus konsisten menjaga produktivitas kerja, sekaligus tetap disiplin menjalankan prosedur kesehatan untuk mencegah penularan Covid-19. “Kita sudah berbulan-bulan menghadapi situasi dimana tiba-tiba angka Covid-19 tiba-tiba tinggi, dan kemudian di waktu lain melandai. Ini perlu penyikapan yang tepat sehingga kita tidak terlena, apalagi salah dalam merespons. Kita sama-sama ingin pandemi ini berlalu,” kata Muhammadun. (kpujepara)

Back to top button
Close