Berita

‘Mengapa KPU Gencar Kampanyekan Antihoaks’

 20191022_115516

‘KPU itu kan penyelenggara pemilu. Mengapa mengampanyekan gerakan melawan hoaks. Apa hubungannya KPU dengan hoaks?’

 

Pertanyaan tersebut dilontarkan, Husnul, salah satu peserta pendidikan pemilih pemula di lokasi kegiatan Hari Santri Nasional di Kecamatan Kembang Kabupaten Jepara, Senin (21/10). Setidaknya ada 200-an siswa dari berbagai sekolah di Jepara yang menjadi peserta acara Pendidikan Pemilih Pemula yang diselenggarakan KPU di lokasi pelaksanaan Hari Santri Nasional di Jepara tersebut.

Kegiatan tersebut diisi Koordinator Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, Partisipasi Masyarakat, dan Sumber Daya Manusia KPU Jepara, Muhammadun. Ia mengambil tema, Mungkinkah Generasi Muda Bisa Kebal dari Serangan Hoaks. Para peserta memberi respons aktif terkait tema tersebut. Setidaknya ada enam penanya dalam sesi tanya jawab. Mereka juga merespons tentang pemilihan petinggi (kepala desa) serentak yang baru saja digelar di Kabupaten Jepara pada 17 Oktober lalu. Bagi mereka, pesta demokrasi pada level tingkat desa pun menjadi perhatian generasi muda.

Muhammadun dalam paparannya menjelaskan bagaimana hoaks terjadi, dan bagaimana membangun sistem imunitas terhadap hoaks. Mengutip dari Cambridge Dictionary, Muhammadun menjelaskan definisi hoaks, dimana di dalamnya ada unsur menipu dan trik (to deceive and trick). Sedangkan definisi dari Kamus Besar Bahasa Indonesia hoaks adalah kabar bohong.

Mengutip pada pakar neurosains Universitas Samratulangi, Pasiak, manusia memiliki tiga perangkat dalam merespons, yaitu intelegensia, intuisi, dan insting. Sementara itu disisi lain, ada kecenderungan seseorang lebih suka mendengar/membaca kisah atau kabar yang sedikit menyimpang, daripada mendengar kebenaran yang tersaji datar-datar saja. Hoaks sering hadir dengan menyentuh sisi emosional sasaran. Targetnya adalah rasa cemas, takut, khawatir dan sisi-sisi emosional lain. Respons seseorang atas informasi, sering mendahulukan sisi emosional ketimbang intelegensia. Kondisi ini mempercepat keterpengaruhan seseorang terhadap hoaks. ‘Terlebih bila hoaks tersebut disajikan dalam bentuk gambar atau video dan diedarkan secara massif, maka akan berpotensi efektif dampaknya,’ kata Muhammadun.

Muhammadun mengungkapkan, berdasarkan sumber dari Hootsuite (2018), pengguna internet dengan gawai di Indonesia sebanyak 177,9 juta pengguna. Dari jumlah ini, yang menggunakan dan aktif di media sosial sebanyak 120 juta jiwa. ‘Hoaks lebih cepat menyebar dengan media sosial karena informasi yang disebarkan terus menular dan berantai,’ kata Muhammadun.

Data dari Kemenkominfo sepanjang Agustus 2018 sampai dengan April 2019, terdapat 1.731 hoaks yang menyebar di media sosial. Dari jumlah itu, paling dominan adalah hoaks politik, yaitu 620 hoaks. Dari jumlah hoaks politik ini, paling banyak terjadi sepanjang April 2019 atau masa-masa pemilu, dengan 486 hoaks. ‘Itu mengapa KPU gencar melakukan gerakan antihoaks karena pada saat pemilu, hoaks tumbuh subur. Penyelenggara pemilu berkali-kali menjadi sasaran tembak hoaks. KPU terus menangkis hoaks tersebut untuk menjaga kredibilitas penyelenggaraan pemilu,’ kata Muhammadun.

Kepada para siswa peserta Pendidikan pemilih pemula, Muhammadun berharap mereka bisa lebih cerdas bermedia sosial, dengan cara sederhana, yaitu berfikir rasional dalam menerima informasi, berhati-hati dengan melakukan verifikasi atau mencari kebenaran informasi, serta tidak mudah menyebar informasi yang belum jelas kebenarannya. ‘Di media sosial kita bisa mengikuti dan berteman dengan banyak orang. Pilihlah dan ikutilah orang-orang yang inspiratif dan kredibel. Isi media sosial dengan hal-hal yang positif,’ kata Muhammadun. (kpujepara)

20191022_115614