ARTIKEL

Mengeja Partisipasi Politik sebagai Kesadaran atau Mobilisasi

mdd
 
Sebagai bagian dari penyelenggara pemilu, penulis memberikan catatan khusus sepanjang aktif di kegiatan sosialisasi dan pendidikan pemilih, sebelum dan sesudah Pemilu 2019 di Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah.
Riset tentang pemilu menunjukkan sebagian kategori tersebut, dimana klientelisme (salah satunya berbentuk politik uang) masih terjadi dalam demokrasi elektoral kita. Burhanuddin Muhtadi dalam Buying Votes in Indonesia: Partisans, Personal Networks, and Winning Margins (2018) menyebutkan ada sekitar 47 sampai dengan 62 juta pemilih di Indonesia mendapatkan tawaran untuk menjual suaranya pada pemilihan legislatif 2014. Kajian Ward Berenshot dan Edward Aspinall dalam Democracy for Sale: Pemilihan, Klientelisme dan Negara di Indonesia (2019) menunjukkan kenyataan bobot klientelisme politik berbeda di tiap daerah di Indonesia. Berenschot dan Aspinall berangkat dari asumsi, tiap daerah di Indonesia memiliki kekhususan dalam menjalankan praktik klientelisme. Keduanya menggunakan Indeks Persepsi Klientelisme (IPK) dalam skala 1 sampai dengan 10. Hasilnya, tidak ada daerah yang betul-betul bebas dari klientelisme politik dan juga tidak ada daerah yang sepenuhnya didominasi praktik tersebut. Kota Surabaya memiki skor terendah dengan angka 3,97, dan Kota Kupang dengan angka 7,95 menempati skor tertinggi di antara kabupaten/kota yang menjadi fokus kajian. Politik uang adalah satu bentuk saja dari partisipasi kategori mobilisasi seperti diajukan Huntington dan Nelson.