Berita

Mengikis Apatisme Generasi Z terhadap Demokrasi dan Pemilu

20191114_092512

Kpujepara.go.id – Beberapa riset memperlihatkan kecenderungan sikap apatis generasi Z terhadap proses demokrasi dan kepemiluan. Di sisi lain, dalam beberapa tahun ke depan, mereka akan berada dalam posisi-posisi kunci dan memegang estafet proses demokrasi tersebut. Karena itu, penting mengomunikasikan pemilu dan demokrasi dengan bahasa yang bisa diterima generasi yang sejak lahir sudah langsung menikmati internet ini.

 

Poin-poin itu menjadi bagian dari diskusi yang dilakukan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Jepara di Madrasah Aliyah Mathalibul Ulum Desa Lebak Kecamatan Pakis Aji, Jepara, Kamis (14/11). Kegiatan tersebut dihadiri Komisioner KPU Jepara Muhammadun, kepala MA Mathalibul Ulum David Wahab Jaelani, guru madrasah setempat Ahmad Nurul Huda, serta 80 siswa dan siswi MA Mathalibul Huda.

 

Muhammadun mengutip survei Center for Generation Kinetics (2016) di Amerika Serikat, 60 persen generasi Z menganggap partisipasi politik penting untuk perubahan sosial. Namun hanya 46 persen dari mereka yang menganggap memberikan suara (voting) saat pemilu dapat berdampak langsung terhadap perubahan.

 

Kecenderungan yang sama juga terjadi di negara-negara Eropa. Efek interaktivitas mereka di media sosial dengan jaringan internet, membuat pilihan pola-pola partisipasi mereka lebih beragam. Penelitian dari Komisi Eropa lima tahun lalu menunjukkan bagaimana konektivitas mereka dengan internet justru membikin kontradiksi. Mereka terlihat tanggap dan cepat di media sosial, namun di sisi lain terisolasi dalam ruang politik yang tidak cair. Mereka juga memandang, memberikan suara di bilik suara hanya bagian kecil partisipasi yang tersaji luas di dunia virtual.

 

Di Indonesia, kata Muhammadun, generasi Z juga menjadi digital native. Konsumsi ereka terhadap informasi yang sangat berlimpah akan menentukan pola-pola partisipasi mereka dalam berdemokrasi. ‘Cara mereka mengemukakan pendapat, mempengaruhi kebijakan publik, dan berekspresi, lebih variatif dan sangat bergantung pada kanal internet,’ ujar Muhammadun.

20191114_105830

Titik, salah satu siswi bercerita banyak soal gaya hidup remaja dan yang dia alami sebagai digital native. Karena sering berinteraksi melalui kanal internet bersama komunitasnya, ia merasa agak samar memahami bagaimana partisipasi generasi Z dalam berdemokrasi, di luar cara yang ia dan teman-temannya lakukan sehari-hari melalui kanal internet. ‘Apakah keterlibatan kami secara langsung dalam kegiatan sekolah dan kemasyarakatan juga bagian dari bentuk partisipasi? Atau apakah suara-suara yang muncul terkait undang-undang yang kemudian disusul adanya perubahan undang-undang itu, hasil dari partisipasi banyak orang di luar jalur media sosial?,’ tanya dia.

 

Dalam bahasa yang interaktif, Muhammadun menjelaskan apa itu demokrasi, demokrasi perwakilan, pentingnya demokrasi, pemilu, pentingnya pemilu, dan apa yang dijamin dari sebuah pemilu yang berkualitas, serta makna-makna dari pemilih berdaulat. Sebab sebagian dari mereka sudah memiliki hak pilih dalam pemilu 2019 lalu. Mereka memberikan testimoni singkat tentang pengalamannya memilih. Muhammadun juga mengungkap beragam bentuk partisipasi yang bisa dilakukan generasi Z, serta membedah bentuk-bentuk ruang publik di lingkungan remaja, termasuk ruang media sosial.

 

Ahmad Nurul Huda, guru MA Mathalibul Huda mengatakan pendidikan pemilih untuk remaja sangat dibutuhkan. Mereka disebut memiliki pengalaman yang bisa dibagikan sekaligus didengarkan. ‘Saya optimistis jika pendidikan pemilih diberikan dengan tepat di kalangan remaja, maka kesadaran untuk peduli terhadap demokrasi dan pemilu akan tumbuh. Mereka bisa mengisi ruang-ruang partisipasi yang terbuka lebar, sehingga mereka tidak apatis,’ kata dia.  (kpujepara)

20191114_091746 20191114_105744 20191114_092704 20191114_092900