Berita

Menyelamatkan Pemilih Pemula dari Politik Uang

20190219_100322
Anggota KPU Jepara Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, Partisipasi Masyarakat, dan SDM Muhammadun saat berduskusi tentang kepemiluan dengan para mahasiswa asal Jepara yang studi di berbagai perguruan tinggi di Gedung BBPBAP Jepara, beberapa waktu lalu.

Kpujepara.go.id – Diskusi mengalir terjadi saat KPU Jepara menggelar sosialisasi pemilu 2019 di kalangan pemilih pemula yang tergabung dalam Mata Air Jepara. Mereka adalah para mahasiswa asal Jepara yang menempuh studi di berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia. Sebagian lagi adalah siswa SMA/SMK/MA kelas 12 yang sudah memiliki hak pilih dan akan menjadi pemilih pemula dalam pemilu 17 April 2019 nanti.

Karena terbiasa dengan kultur kehidupan di kampus yang kritis, mereka juga ingin menjadi pemilih yang rasional dalam pemilu 2019 ini. Sosialisasi itu dikemas dalam kegiatan Leadership Camp yang berlangsung Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara. Hadir Anggota KPU Jepara Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, Partisipasi Masyarakat, dan SDM Muhammadun yang menjadi pemantik diskusi sekaligus menyampaikan materi sosialisasi pemilu 2019, serta Pembina Mata Air Jepara Adib K Zaman.

Muhammadun dalam kesempatan itu mengatakan, generasi muda memiliki kesempatan luas dalam berpartisipasi di pemilu 2019. Selain memiliki peluang menjadi penyelenggara, misalnya di Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS), mereka juga bisa terlibat dalam kegiatan-kegiatan literasi kepemiluan, survei, dikusi-diskusi, serta paling tidak memberikan hak pilihnya saat hari pemungutan suara nanti.

Terkait persoalan kependudukan, mereka sudah mengantongi KTP elektronik, dan yang belum masih bisa mengurus di Dinas Dukcapil. Potensi masalah lain yang bisa saja menimpa generasi pemilih pemula adalah politik uang. “Meski dalam banyak sosialisasi kami bertanya ke generasi muda menolak politik uang, namun potensi mereka terpapar bisa saja terjadi. Karena itu pendidikan pemilih agar mereka bisa menjadi pemilih yang cerdas dan rasional perlu terus ditumbuhkan. Diskusi-diskusi kepemiluan dan demokrasi bagi mereka penting untuk menyelamatkan mereka dari politik uang yang bisa menggerus martabat demokrasi,” kata Muhammadun.

Rusmina, salah satu mahasiswi dalam kesempatan itu mengungkapkan, berdasarkan pengalamannya di kampung, tak mudah menghindarkan pemilih dari politik uang, namun generasi muda bisa melakukan gerakan moral untuk membersihkan atau mengurangi praktik-praktik kotor dalam pemilu.

Para pemilih pemula itu juga tak ingin memberikan suara dalam pemilu tanpa argumentasi. “Kami harus tahu, siapa kandidat, bagaimana jejak rekamnya, bagaimana risiko-risikonya, juga urgensi dari pemilu ini,” ujar Agus, salah satu peserta diskusi.

Muhammadun mengatakan, pemilih pemula atau generasi di usia 17 sampai dengan 19 tahun sebagian memiliki kecenderungan mengambil jarak dari hiruk-pikuk politik. Jika mereka benar-benar masuk ke ruang demokrasi, mereka membutuhkan argumentasi yang rasional. “Pilihan dalam pemilu itu hak. Sikap aktif masyarakat pemilih pemula dalam menemukan alasan untuk memberikan hak suara dalam pemilu patut diapresiasi dan diberi jalan informasi seluas-luasnya. KPU membuka ruang informasi itu, dan informasi itu bisa didapat dari beragam sumber, termasuk dari peserta pemilu,” kata Muhammadun. (muh/kpujepara).

Back to top button
Close