Berita

Ruang Digital Strategis untuk Literasi Pemilih

Kpujepara.go.id – Ruang digital dinilai sangat terbuka dan strategis untuk melakukan kegiatan-kegiatan literasi, termasuk untuk literasi pemilih. Bentuknya bisa beragam. Bisa tulisan dalam bentuk narasi, video, infografis, atau konten-konten kreatif lainnya. Literasi di ruang digital penting karena di ruang yang sama, hal-hal yang kontraproduktif terhadap jalannya demokrasi juga bermunculan.
Hal itu dikemukakan Muhammadun, kordinator Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, Partisipasi Masyarakat dan SDM KPU Kabupaten Jepara saat menjadi narasumber dalam talkshow di Radio R-Lisa dengan tema Tak Berhenti Menulis dan Menebar Inspirasi. Acara itu dipandu Dinda Kirana, host R-Lisa. Selain Muhammadun, narasumber lain adalah Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Jepara Budi Santoso, serta wartawan Suarabaru.id dan penulis buku Hadi Priyanto.
Menurut Muhammadun, peran media di era konvergensi sangat penting. Setidaknya jurnalisme di media massa tetap menemukan tempatnya sebagai verifikator informasi di tengah era disrupsi. Menulis, tak hanya dilakukan oleh jurnalis. Di era media baru, teknologi komunikasi dan informasi multiplatform memungkinkan setiap orang membikin konten digital. Bisa tulisan, video, infografis maupun bentuk lain. Ini juga turut mewarnai bagaimana interaksi di ruang digital.
Dalam posisinya di KPU, Muhammadun menyatakan ada peran-peran strategis bagaimana penyelenggara pemilu terlibat aktif dalam pendidikan pemilih. Ini juga bisa dilakukan di ruang yang konvergen, di dunia digital yang terkoneksi internet. Ini memungkinka warganet mengekspresikan diri.
“Kita mengenal demokrasi prosedural yaitu bagaimana pemilu dan pilkada secara prosedural dijalankan sesuai konsititusi dan regulasi. Ini bisa melaui program sosialisasi, termasuk melalui internet dengan tulisan-tulisan,” kata Muhammadun.
Di luar itu menurut Muhamadun, ada demokrasi substansial, dimana KPU, tentu bersama-sama dengan elemen masyarakat lain, termasuk media, menyuguhkan ruang interaksi di internet yang sehat; tidak berkonten hoaks, fitnah, berbumbu SARA, dan tidak memainkan politik identitas. Ini bisa disentuh dengan Pendidikan pemilih/politik. “Kita juga punya tangung jawab bagaimana demokrasi substansial ini juga terjaga kebugaran dan kesehatannya. Sehingga partisipasi di ruang demokrasi digital benar-benar bisa produktif,” kata Muhammadun.
Ketua PWI Jepara Budi Santoso menyatakan di tengah perkembangan pesat teknologi informasi dan komunikasi, jurnalisme tetap memiliki fungsi strategis. “Fungsi jurnalisme sebagai ruang edukasi dan pengawasan tetap bisa dijalankan. Kerja-kerja jurnalistik yang mengunggulkan langkah-langkah verifikasi data akan sangat bermanfaat di tengah melimpahnya data yang belum layak konsumsi namun sudah beredar seperti sekarang ini,” kata Budi.
Hadi Priyanto mengatakan tulisan dapat menjadi sumber informasi dan juga inspirasi bagi siapapun. Termasuk tulisan yang bersifat kritik konstruktif terhadap satu kebijakan,” ujar Hadi Priyanto. Jika ingin menjadi inspirasi bagi sesama, jadilah seorang penulis. Syaratnya harus mau terus belajar, membaca dan tidak berhenti berlatih,” kata dia. (kpujepara)