ARTIKEL

Saatnya Saling Mamaafkan

Oleh: Subchan Zuhri, S.Pd.I

(Komisioner KPU Jepara)

Pesta demokrasi telah usai. Pemilu Presiden dan Wakil Presiden telah sama-sama kita lalui dengan beragam ekspresi. Dalam setiap perhelatan, tentu ada yang menang, ada yang kalah. Sistem pemilu ini tidak memberi peluang draw atau berakhir dengan imbang.

Meski dalam hal perolehan suara ada yang menang ada yang kalah, namun sejatinya ini adalah kemenangan bagi seluruh rakyat Indonesia. Harus diakui, siapapun presiden dan wakil presiden yang terpilih dari proses pemilu ini adalah pemimpin bangsa Indonesia selala lima tahun ke depan (2014-2019).

Proses Pemilu Presiden dan Wakil Presiden kali ini memang cukup menguras energi, biaya bahkan emosi. Baik bagi penyelenggara, maupun peserta yakni para calon presiden dan wakil presiden beserta tim sukses dan pendukungnya.

Pemilu Presiden dan Wakil Presiden kali ini juga sungguh istimewa. Sebab, hajat lima tahunan ini berbarengan dengan Bulan Ramadan, di mana umat muslim tengah menjalankan ibadah puasa.

Dan berakhirnya Pilpres kali ini juga hampir bersamaan dengan berakhirnya Ramadan, yang berarti memasuki Hari Raya Idul Fitri. Hari kemenangan bagi umat muslim.

Puasa dan Pilpres memang menjadi ujian bagi bangsa Indonesia. Puasa diperintahkan Allah SWT agar manusia bisa menahan nafsu-nafsu setan agar lebih mendekatkan diri pada Sang Khalik. Memperbanyak amal ibadah, dan mengurangi perbuatan tidak bermanfaat.

Pilpres, juga ujian bagi masyarakat Indonesia. Bagi penyelenggara pemilu, bagi pemerintah, bagi peserta dan para pendukung, bagi masyarakat pemilih, bagi aparat keamanan yang mendapat tugas menjaga keamanan, bagi media massa, bagi peneliti maupun lembaga survei, bagi akademisi, bahkan tak luput diuji pula para ulama, aganawan dan rohaniawan.

Tentu gogaan dari setiap unsur diatas berbeda satu sama lain. Bagi penyelenggara pemilu, ujian yang dihadapi adalah netralitas, profesionalitas, akuntabilitas, maupun integritas dalam menyelenggarakan pesta demokrasi ini. Bagi para calon presiden-wakil presiden dan pendukungnya, ujiannya berbeda lagi. Mereka diuji untuk bisa mengikuti aturan yang berlaku, diuji untuk tidak saling menghalalkan segala cara demi meraih kekuasaan, diuji untuk dapat menerima apapun hasil pemilu.